Postingan

Kura Kura

Aku seorang kura-kura. Bertahun-tahun aku belajar bersembunyi di dalam tempurung. Bukan karena aku takut pada dunia, tetapi karena aku pernah tahu bagaimana rasanya terluka olehnya. Di dalam sana, aku merasa aman. Tak banyak yang bisa menyentuh. Tak banyak pula yang bisa menghancurkan. Sampai suatu waktu, entah karena lupa atau karena merasa sudah sembuh, aku mulai mengeluarkan kepala. Lalu kaki. Pelan-pelan aku berjalan lagi. Membiarkan seseorang mendekat. Membiarkan kepercayaan tumbuh, tanpa banyak bertanya apakah dunia sudah berubah atau hanya aku yang sedang lengah. Ternyata waktu tidak selalu menyembuhkan. Kadang ia hanya membuat kita lupa di mana letak luka. Dan hari ini aku kembali terluka. Bukan hanya karena seseorang. Tapi karena aku kembali menyalahkan diriku sendiri. Mengapa keluar dari tempurung? Mengapa percaya lagi? Mengapa mengira kali ini akan berbeda? Mungkin aku memang bodoh. Atau mungkin, menjadi kura-kura bukan berarti harus selamanya bersembunyi. Mungkin aku hanya ...

Kepercayaan

Mula-mula ia hanya sebuah pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Lalu angin keluar masuk membawa nama-nama. Ada yang tinggal. Ada yang membawa pulang kuncinya. Sejak itu pintu masih ada. Yang berubah hanyalah caraku mendengar ketukan 🌿

Orang Asing yang Pernah Akrab

Namamu masih seperti dulu. Aku pun masih mengenal cara suaramu jatuh di ujung kalimat. Yang berubah hanya jarak. Kini kita saling lewat seperti dua musim yang pernah bertemu lalu lupa cara menetap.

Adakah Foto yang Benar-Benar Orisinal?

Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu setiap kali aku mengangkat kamera... Adakah foto yang benar-benar orisinal? Pertanyaan ini terdengar sederhana, hampir seperti pertanyaan iseng yang lewat begitu saja. Tetapi semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa ia justru menggerogoti dasar dari banyak hal yang kita yakini tentang fotografi. Sebab kalau mau jujur, hampir semua yang kita potret sudah pernah dipotret oleh orang lain. Jalanan. Wajah manusia. Bayangan. Refleksi. Langit sore. Gerak tubuh. Jendela. Kursi. Laut. Pasar. Kesunyian. Keramaian. Semua itu bukan benda baru. Semua itu bukan subjek yang menunggu ditemukan pertama kali oleh kita. Lalu, apa sebenarnya yang masih tersisa untuk disebut baru? Di titik itulah pertanyaan tentang orisinalitas mulai terasa tidak sesederhana slogan. Kita tumbuh dengan gagasan bahwa karya yang baik harus berbeda, harus segar, harus punya identitas yang segera dikenali. Dalam dunia yang bergerak cepat, kebaruan seperti mata uang yang paling dibu...

Garis yang Tak Pernah Cukup

 Aku sudah menarik garis di tempat yang seharusnya. Kujaga langkah agar tak melampaui. Kujaga kata agar tak berubah makna. Kujaga jarak agar semua tetap nyaman. Kukira, selama tubuh tahu batas, hati akan ikut patuh. Ternyata tidak. Ada rindu yang tidak meminta izin untuk tumbuh. Ia hadir justru ketika aku sedang berusaha tidak memikirkannya. Aku tidak pernah memintanya datang. Bahkan berkali-kali berharap ia pulang ke tempat yang semestinya. Namun perasaan tidak mengenal mana yang boleh dan mana yang tidak. Ia hanya tahu ke mana ia selalu ingin pulang. Maka aku tetap menjaga garis itu. Bukan karena rindu telah selesai. Melainkan karena ada ketenangan yang tak boleh kehilangan tempatnya. Dan mungkin, yang paling melelahkan bukanlah menahan langkah. Melainkan setiap hari mengajari hati tentang batas... sementara ia tak pernah benar-benar memahaminya.