Postingan

Yang Menari di Pantai Watu Pecak

Gambar
Aku datang ke Pantai Watu Pecak siang itu dengan satu tujuan sederhana: memotret. Merekam Segoro Topeng lewat lensa kamera. Membawa pulang warna, gerakan, ekspresi, dan potongan cerita dari sebuah tradisi yang baru pertama kali kusaksikan. Awalnya, aku mengira yang akan paling kuingat adalah kemegahannya. Dan memang, sulit untuk tidak terpukau. Di hadapanku, ratusan penari memenuhi pasir Watu Pecak. Berbalut warna merah yang menyala, mereka bergerak mengikuti irama yang sama. Tangan terangkat bersamaan, langkah kaki berpindah seirama, seolah setiap orang tahu kapan harus bergerak dan kapan harus memberi ruang. Ada sesuatu yang menggetarkan dari sebuah tarian kolosal. Bukan hanya karena banyaknya manusia yang terlibat, tetapi karena untuk beberapa saat, ratusan individu memilih menjadi bagian dari satu cerita yang sama. Mereka mungkin datang dengan latar belakang berbeda. Dengan kehidupan masing-masing. Dengan cerita masing-masing. Namun hari itu, di tepi laut Watu Pecak, mereka bergera...

Yang Kita Cari Bukan Manusia

Aku pernah menaruh kepercayaan begitu tinggi pada seseorang, sampai nyaris tidak menyisakan ruang baginya untuk keliru. Setiap penilaiannya terasa layak dipercaya. Setiap keputusan yang diambilnya seolah selalu memiliki alasan yang matang. Bahkan ketika orang lain meragukannya, diam-diam aku lebih memilih berdiri di pihaknya. Bukan karena aku benar-benar mengenalnya secara utuh. Mungkin justru karena aku hanya mengenalnya dari bagian-bagian terbaik yang sempat kulihat. Cara berpikirnya. Hal-hal yang pernah dikerjakannya. Keputusan-keputusan yang menurutku tepat. Cara ia membawa dirinya dalam keadaan tertentu. Sedikit demi sedikit, semua itu kususun menjadi gambaran yang terasa lengkap. Tanpa kusadari, kekaguman telah mengubah caraku memandangnya. Aku tidak lagi melihatnya sebagai manusia biasa. Aku mulai melihatnya sebagai ukuran. Lalu suatu hari, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan. Aku kecewa. Bukan hanya karena tindakannya, tetapi karena dalam satu kejadian, bayangan ...

Tentang Program yang Tidak Boleh Disakralkan

Setiap kali sebuah program dikritik, selalu ada kalimat yang muncul lebih dulu. "Yang penting rakyat terbantu." Lalu kritik terhadap pelaksanaan dipelintir seolah-olah menjadi penolakan terhadap tujuan program itu sendiri. Padahal keduanya tidak pernah sama. Tidak ada yang menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi. Tidak ada yang keberatan jika negara hadir membantu mereka yang membutuhkan. Yang dipertanyakan adalah sesuatu yang memang harus dipertanyakan. Apakah anggarannya dikelola dengan benar? Apakah pelaksanaannya tepat sasaran? Apakah kualitasnya sesuai dengan yang dijanjikan? Apakah setiap rupiah benar-benar sampai kepada mereka yang berhak menerimanya? Karena program publik bukan sekadar soal niat. Ia adalah amanah yang dibiayai oleh uang rakyat. Maka wajar jika rakyat bertanya. Wajar jika rakyat mengawasi. Wajar jika rakyat mengkritik. Sebab kritik bukanlah upaya menggagalkan sebuah program. Kritik adalah cara memastikan sebuah program tetap bera...

Sabar Menunggu

Gambar
Beberapa foto menarik perhatianku karena cahaya.  Beberapa karena ekspresi orang-orang di dalamnya.  Tapi ada juga foto yang kuambil hanya karena sebuah kalimat. Hari itu, aku berhenti di depan gerobak sederhana.  Di sisinya tertulis dua kata: SABAR MENUNGGU . Aku yakin tulisan itu dibuat untuk pembeli.  Supaya orang yang sedang lapar tidak berkali-kali bertanya, "Sudah belum?" Sederhana. Namun entah mengapa, dalam perjalanan pulang justru aku terus memikirkannya. Belakangan aku merasa, kita sedang hidup di masa yang semakin sulit memberi ruang bagi penantian.  Hampir semua hal bisa didapat dengan cepat. Kita terbiasa menunggu hitungan menit, bukan hitungan hari.  Terbiasa ingin jawaban sekarang juga.  Terbiasa menganggap lambat sebagai sesuatu yang salah. Mungkin tanpa sadar, kebiasaan itu ikut kita bawa ke dalam hidup. Kita ingin persoalan segera selesai.  Ingin usaha segera membuahkan hasil.  Ingin doa segera dijawab.  Ketika se...

Suatu Hari Nanti

 Ada kalanya hidup terasa seperti ruang tunggu. Bukan karena tidak ada yang terjadi.  Justru banyak sekali yang sedang berlangsung.  Kita bekerja, bertemu orang-orang baru, kehilangan beberapa hal, menemukan hal-hal lain.  Hari berganti tanpa banyak jeda. Tetapi di dalam diri, ada sesuatu yang seolah masih menunggu. Menunggu sebuah jawaban. Menunggu keadaan membaik. Menunggu seseorang berubah. Atau sekadar menunggu hati benar-benar bisa menerima apa yang sudah terjadi. Dulu aku berpikir semua penantian harus diakhiri secepat mungkin.  Aku ingin segala sesuatu jelas.  Jika ada masalah, harus segera selesai.  Jika kehilangan, harus segera tergantikan.  Jika ada luka, harus segera sembuh. Belakangan aku sadar, hidup tidak pernah terburu-buru hanya karena kita menginginkannya. Ada pertanyaan yang baru terjawab bertahun-tahun kemudian. Ada pertemuan yang baru terasa maknanya setelah semuanya usai. Ada kegagalan yang ternyata sedang membuka j...